Meninjau Ulang Pelayanan Sosial Anak Jalanan: Antara Filosofi dan Teknis Kelembagaan

Keberadaan anak jalanan merupakan salah satu masalah sosial klasik yang kerap ditemui di berbagai kota besar di Indonesia. Fenomena ini seringkali dilihat sebagai konsekuensi logis dari perkembangan wilayah perkotaan yang membuka ruang kesenjangan, maupun akibat lemahnya penyediaan pelayanan sosial dasar bagi keluarga dan anak. Lantas, kerangka berpikir dan hal teknis apa saja yang seharusnya melandasi kebijakan penanganan masalah ini?

Tulisan komprehensif berjudul “Aspek Filosofis dan Teknis dalam Penyusunan Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Lembaga” karya Rissalwan Habdy Lubis ini mengupas tuntas pelayanan sosial bagi anak jalanan dari dua sudut pandang utama:

  • Aspek Filosofis: Mempertanyakan kembali motivasi dan kerangka berpikir di balik penyediaan layanan. Tulisan ini membedah empat diskursus utama—profesional, komunitas, pasar, dan manajerial—yang menentukan arah kebijakan dan praktik pelayanan sosial di lapangan.

  • Aspek Teknis: Menyoroti pentingnya peran lembaga sebagai wadah untuk menjalankan program sosial. Dengan meminjam konsep The Production of Welfare dari Martin Knapp, tulisan ini menekankan bahwa keberhasilan sebuah program panti atau rumah singgah tidak hanya diukur dari tersedianya layanan (pencapaian antara), melainkan harus bermuara pada perubahan nyata kualitas hidup anak agar mereka tidak kembali ke jalan (pencapaian akhir).

Sebagai kesimpulan, tulisan ini mendorong pentingnya menemukan rumusan pendekatan yang terintegrasi (integrated approach) agar berbagai strategi penanganan anak jalanan dapat terlembaga dengan baik, menyeluruh, dan berkesinambungan.

Bagi Anda para penggiat sosial, akademisi, maupun pembuat kebijakan yang tertarik untuk mendalami kajian mengenai tata kelola kelembagaan dan efisiensi pelayanan sosial, silakan membaca kajian selengkapnya.

Selengkapnya disini 

Previous Menjaga Kedaulatan Ruang Digital di Hari Bhayangkara

Leave Your Comment