Jasa & Kemandirian Pangan sebagai Bentuk Lain Perjuangan Bangsa

Jasa & Kemandirian Pangan sebagai Bentuk Lain Perjuangan Bangsa

Bukan Sekadar Upacara dan Tabur Bunga. Ini Perjuangan yang Masih Berlanjut di Ladang dan Kolam.

Setiap tanggal 10 Agustus, kita memperingati Hari Veteran Nasional. Kesan yang biasa melekat: upacara khidmat, penghormatan kepada para pejuang bersenjata, atau tabur bunga di Taman Makam Pahlawan. Tapi hari ini, izinkan kami menariknya ke sudut yang jarang dibicarakan: perjuangan bangsa ini tidak pernah benar-benar selesai di medan tempur — ia berlanjut, dalam bentuk lain, di sawah, kebun, dan kolam milik rakyat biasa.

Perang yang Berganti Wajah

Dulu, ancaman terhadap kedaulatan bangsa datang dalam bentuk penjajahan fisik. Hari ini, salah satu ancaman paling nyata adalah ketergantungan pangan — situasi di mana sebuah bangsa tidak lagi mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Impor beras, gula, hingga ikan olahan yang terus membengkak bukan sekadar angka statistik ekonomi, melainkan cermin dari kerentanan yang, jika dibiarkan, bisa menjadi bentuk penjajahan baru yang lebih halus namun sama berbahayanya.

Petani dan Nelayan sebagai Garda Kemandirian

Di sinilah para petani, nelayan, pekebun, dan pembudidaya komoditas lokal — kelapa, pala, kopi, ikan air tawar, dan lainnya — mengambil peran yang tidak kalah penting dari perjuangan bersenjata di masa lalu. Setiap kali mereka memilih menanam alih-alih menyerah pada lahan yang dijual, setiap kali mereka memilih mengolah hasil bumi sendiri alih-alih hanya bergantung pada produk impor, mereka sedang mempertahankan sesuatu yang sama berharganya dengan kedaulatan wilayah: kedaulatan pangan bangsa.

Jasa yang Tidak Tercatat di Buku Sejarah

Tidak ada tanda jasa resmi untuk seorang nelayan yang bertahan melaut meski harga solar naik, atau seorang petani kelapa yang tetap merawat kebunnya meski harga pasar tak menentu. Namun ketahanan mereka adalah bentuk kesetiaan yang sama nilainya dengan sumpah seorang veteran: memilih bertahan demi sesuatu yang lebih besar dari kepentingan pribadi. Kesejahteraan sosial sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kebijakan dari atas, tapi juga oleh jutaan keputusan kecil di tingkat akar rumput untuk terus berproduksi, terus bertahan.

Mewariskan Semangat, Bukan Sekadar Mengenangnya

Menghormati jasa veteran bukan hanya soal mengenang masa lalu, tapi juga soal meneruskan semangatnya ke bentuk perjuangan yang relevan hari ini. Mendukung ekosistem komoditas lokal, memperkuat kemandirian pangan daerah, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk melihat pertanian dan perikanan sebagai bentuk kontribusi nyata bagi bangsa — itu semua adalah cara kita melanjutkan estafet perjuangan yang dulu dimulai oleh para veteran.

Selamat Hari Veteran Nasional, 10 Agustus 2026. Kepada mereka yang berjuang dengan senjata di masa lalu, dan kepada mereka yang berjuang dengan cangkul, jaring, serta ketekunan hari ini — perjuangan bangsa ini masih dan akan terus berlanjut, dalam bentuknya masing-masing.

Previous Perguruan Tinggi sebagai Pilar Good Governance: Belajar dari Kota Depok

Leave Your Comment