Bukan Sekadar Bisa Baca Tulis. Ini Soal Siapa yang Mampu Bertahan di Era Digital.
Setiap tanggal 8 September, dunia memperingati Hari Aksara Internasional. Kesan yang biasa melekat: pemberantasan buta huruf, program keaksaraan di desa-desa terpencil, atau statistik angka melek huruf nasional. Tapi hari ini, izinkan kami menariknya ke sudut yang lebih dekat dengan realita ekonomi akar rumput: di zaman sekarang, “buta aksara” punya wajah baru — dan ia mengancam jutaan pelaku UMKM komoditas yang sebenarnya sudah bisa membaca dan menulis dengan baik.
Ketika Bisa Membaca Saja Tidak Lagi Cukup
Seorang petani kopi bisa membaca label kemasan, seorang pembudidaya ikan bisa menulis catatan hasil panen — tapi banyak dari mereka masih gagap ketika harus mengunggah produk ke marketplace, membuat konten promosi di media sosial, atau membaca data sederhana soal tren pasar digital. Inilah bentuk buta aksara baru: bukan soal huruf, melainkan soal kemampuan membaca dan memanfaatkan bahasa digital yang kini menentukan siapa yang bisa menjual lebih luas, dan siapa yang tertinggal di pasar lokal saja.
UMKM Komoditas yang Terjebak di “Kelas Bawah” Digital
Banyak produk unggulan daerah — kelapa olahan, kopi kemasan, ikan asap, hasil rempah — sebenarnya punya kualitas yang tidak kalah dari produk besar. Yang membedakan seringkali bukan kualitas produk, tapi kemampuan pelakunya “berbicara” dalam bahasa digital: foto produk yang menarik, deskripsi yang menjual, hingga kemampuan membaca data sederhana soal siapa target pembeli mereka. Tanpa literasi digital, UMKM komoditas lokal akan terus terjebak menjual dengan cara lama, ke pasar yang itu-itu saja, sementara pesaing yang lebih melek digital merangsek naik kelas.
Literasi sebagai Jembatan Kesejahteraan, Bukan Sekadar Keterampilan Teknis
Mengajarkan literasi digital kepada pelaku UMKM komoditas bukan sekadar soal mengajari cara pakai aplikasi. Ini soal membuka jembatan menuju kesejahteraan yang lebih adil — di mana petani kelapa di pelosok punya kesempatan yang sama untuk menjangkau pembeli di kota besar, sama seperti produsen besar yang sudah lebih dulu melek digital. Literasi, dalam pengertian yang lebih luas ini, adalah bentuk keadilan sosial di era digital: siapa yang mampu “membaca” ekosistem digital, dialah yang punya peluang lebih besar untuk naik kelas.
Merawat Semangat Aksara di Ladang dan Layar
Hari Aksara Internasional seharusnya tidak lagi hanya berhenti pada program membaca-menulis konvensional. Ia perlu diperluas maknanya: mendampingi pelaku usaha komoditas lokal agar mampu membaca peluang digital, menulis narasi produk yang menjual, dan memahami data sederhana yang bisa menentukan arah bisnis mereka. Sebab pada akhirnya, kesejahteraan sosial hari ini banyak ditentukan oleh siapa yang mampu beradaptasi dengan bahasa baru dunia — bahasa digital.
Selamat Hari Aksara Internasional, 8 September 2026. Semoga semangat literasi terus diperluas, bukan hanya untuk membaca huruf, tapi juga untuk membaca peluang — agar setiap komoditas lokal, dari kampung sekalipun, punya kesempatan yang sama untuk naik kelas.
